Bulan Desember di tahun 2010 sudah selayaknya masuk dalam buku sejarah Indonesia, ada yang sependapat?? saya yakin tidak banyak, sebelum saya sampaikan alasan dari pernyataan saya sebelumnya. Masih ingat kapan terakhir kali kita (anda,dan saya) berbagi tawa karena stimulus yang diberikan oleh permainan baik tim nasional sepakbola kita? saya yakin banyak dari anda yang lupa, dan sangat wajar karena sudah sekian lama kita hanya disajikan oleh rentetan duka dan kekecewaan akan prestasi olahraga nasional sepakbola.
Saya jadi teringat oleh perkataan seorang pemimpin terbaik dan terkuat yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Soekarno "olahraga adalah alat pembentuk karakter bangsa", bangsa yang memiliki prestasi olahraga yang baik biasanya juga memiliki karakter yang kuat. Tidak banyak bantuan yang dilakukan oleh tim nasional sepakbola kita selama ini dalam pembentukan karakter bangsa, dan saya yakin anda mengerti dengan pernyataan dan alasan saya menyatakan pernyataan saya itu.
ya, selama ini tidak banyak prestasi yang disumbangkan sepakbola yang dapat memicu keluarnya karakter asli bangsa Indonesia, hingga bulan Desember 2010. tim nasional Indonesia yang berlaga dengan baik selama Piala Asean Football Federation (AFF)2010 sejauh ini telah memberikan stimulus yang luar biasa untuk memunculkan karakter sebenarnya dari bangsa Indonesia, bangsa besar yang sangat lama lupa siapa mereka, bangsa yang dapat bersikap sangat militan dan siap "mati" demi membela tim nasionalnya, bandingkan dengan malaysia yang tidak memilki kebanggaan sebesar itu akan tim nasionalnya, ataupun Filipina yang salah satu pemain naturalisasinya menceritakan bahwa di negaranya bahkan untuk mengumpulkan 2000 orang untuk menonton sepakbola merupakan hal yang berat.
Apalagi kebanggaan yang dapat kita peroleh dari Republik ini? Republik yang kacau dan carut marut, Republik yang memiliki budaya korup, dan lembaga pendidikan koruptor papan atas di dunia! Tolong puang Nurdin Halid, Tuan Besar Aburizal Bakrie, Rekan-rekan pers yang terhormat, dan pihak2 yang merasa berhak diberi penghargaan lebih atas prestasi ini biarkan tim nasional kita berkembang dengan layak dan benar, biarkan Mr.Riedl meracik timnya dengan nyaman, jangan kotori sepakbola dengan politik, dan ekspektasi berlebihan yang membebani kaki punggawa terbaik di negeri ini, biarkan mereka bermain dengan riang.
Jika nantinya kita gagal jangan kecam firman utina, jangan pula menyalahkan Maman Abdurrahman, ataupun menghujat Markus, tapi salahkanlah diri kita sendiri yang memberikan "dukungan irasional" dengan pemberitaan berlebihan, "agenda sampah" diluar program latihan, dan sikap "megalomania" yang egoistis. Marilah dewasa sebagai pendukung, dewasa sebagai bangsa, marilah kita menang sebagai suatu bangsa, dan kalah tetap sebagai suatu bangsa karena hanya dengan itu kita akan berteriak dan bernyanyi bersama, kita Indonesia dan semoga bangga dengan kenyataan itu.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar