tentunya saya tidak perlu repot untuk memperkenalkan siapa orang yang mengucapkan kalimat diatas karena anda pasti sudah tau siapa dia, bukan? ya...Irfan Haris Bachdim merupakan pemain "naturalisasi" yang besar di Belanda dan pernah berlatih di akademi sepakbola Ajax Amsterdam, lagi2 saya juga tidak perlu untuk menjelaskan mengenai akademi tersohor yang satu ini, karena jika anda berpengetahuan luas soal sepakbola tentu anda juga akan mengenal akademi ini.
Saat menulis tulisan ini otak saya belum benar-benar netral dari kecanduan dan euforia piala AFF 2010 yang ditularkan timnas Indonesia, seperti juga kebanyakan dari anda. Saya juga salah satu dari masyarakat Indonesia yang bangga luar biasa dengan penampilan timnas Indonesia, setidaknya hingga babak semifinal.kenapa babak semifinal? karena babak final yang dilangsungkan hanya menyumbangkan 1 lagi rasa penasaran akan gelar juara.
Pertandingan pertama babak final di stadion Bukit Jalil, Malaysia sekali lagi menjadi bukti bahwa ada kelemahan mental yang parah dan mengakar pada pemain Indonesia yang membuat setiap lawan diberi "kenyamanan" bermain dan menekan saat timnas Indonesia tidak bermain di "kandangnya". terlepas sebesar apa pengaruh laser terhadap pandangan Markus Haris Maulana ataupun duet penyerang Malaysia yang memang berkualitas, pemain Indonesia "membantu" kemenangan Malaysia dengan tampil sangat tidak baik sehingga hasil 3-0 adalah hadiahnya.
Namun, apa yang terjadi setelah kekalahan telak itu???
normalnya suporter Indonesia akan menyerah dan memilih untuk menghentikan euforia, tapi sebaliknya! dukungan itu mengalir semakin menggila, suporter sepertinya tau apa yang dapat diperbuat oleh pemain kita jika berlaga di Gelora Bung Karno, suporter juga tau apa yang harus diperbuat oleh mereka agar menjadi bagian dari tim, pemain ke-12.
Faktanya semua tim yang bermain di Gelora Bung Karno selama piala AFF harus menyerah kalah, termasuk 2 lawan terberat yang dihadapi Indonesia selama piala AFF ini yaitu Thailand dan Filipina dengan pemain naturalisasinya. Malaysia sang juara 2 kali tampil di GBK mereka harus kebobolan 7 gol dan hanya menyarangkan 2 gol dan keduanya menghasilkan kekalahan. Militanisme suporter Indonesia membuat kaki pemain timnas bergerak lebih ringan, dan berlari lebih cepat.
ya Indonesia bukan juara, juga tidak memperoleh piala, tapi salut yang setinggi-tingginya bagi rekan-rekan suporter yang berjuang bahkan tidak kalah keras dengan para pemainnya demi mengharumkan nama bangsa, salut untuk mereka yang rela pingsan, menjadi gelandangan dadakan, bahkan menyumbangkan nyawanya...
Indonesia hanya untukmu jiwa raga kami....
Good or Bad Still My Fuckin Country...!!
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar