SELAMAT DATANG

Blog ini ditulis bukan untuk jadi bahan referensi, bahan bacaan yang baik, apalagi sebagai acuan, blog ini hanyalah wujud penulis dalam bentuk kata-kata, jika menghasilkan manfaat itu murni bukan merupakaan suatu kesengajaan yang penulis harapkan. ENJOY...

Jumat, 31 Desember 2010

Mengapa Retil??

Reptil, apa yang terlintas di benak anda saat mendengar kata tersebut?
ular....yeah, ular..
ular memang merupakan salah satu dari banyak jenis reptil yang ada di dunia. jadi, apa yang biasanya anda (orang kebanyakan maksud saya) bayangkan jika mendengar kalimat ular?
coba saya tebak: ganas/galak, liar, berbahaya, berbisa, dan semua deskripsi buruk yang akhirnya bermuara pada kesimpulan "Ular merupakan hewan berbahaya dan patut dihindari, jika terpaksa bertemu harus dibunuh!!".
wow...itu pandangan ekstrem, tapi pastinya banyak orang yang setuju daripada menentangnya, bukan??
untuk sekedar diketahui, saya adalah salah satu orang yang bukan termasuk manusia yang berpandangan buruk tentang reptil, lebih khusus lagi ular, bahkan lebih tepatnya saya mencintai makhluk tuhan yang satu ini, mengapa harus reptil? mengapa harus ular?
Saat menulis posting ini saya telah memiliki 3 ekor ular peliharaan, sekali lagi, kenapa harus ular?? hmmm...itu pertanyaan yang sering saya terima saat orang-orang melihat peliharaan saya, kok tertarik pelihara ular ? kok enggak anjing? kucing? ikan? atw hewan-hewan lain yang "normal" menjadi peliharaan?
Jika ditanya seperti itu saya tidak dapat menjelaskan mengapa cinta saya harus diserahkan pada ular, tapi jika dapat saya deskripsikan perasaan tentang ular itu seperti ini:
saya mungkin tertarik dengan hal-hal aneh dan orang menganggap aneh hal-hal aneh yang saya anggap normal itu, untuk itu saya sangat menikmati pandangan aneh, pertanyaan aneh, dan reaksi aneh yang ditimbulkan karenanya? apa itu cukup aneh?ya mungkin bagi anda, tapi tidak cukup aneh bagi saya. memelihara ular adalah mimpi saya sejak masih duduk di bangku sekolah, lebih tepatnya SD,SMP,atw SMA saya lupa.
saya suka dengan hewan buas yang tidak lazim dijadikan peliharaan, untuk diketahui selain ular saya juga punya seekor elang gunung, dan nantinya berharap dapat memelihara seekor harimau, singa, atau kuda, tidak mungkin?? saya pikir semuanya mungkin, ular dan elang dulu hanyalah hewan peliharaan impian, tapi sekarang berhasil saya wujudkan.
oh iya....hampir lupa memeperkenalkan ular-ular saya:
1. Python Molurus, saya beri nama "orochimaru", saat ini sudah berukuran 2 meter up, sangat jinak sekali dan menyenangkan jika diajak main. sekedar info, python molurus dapat berukuran panjang hingga 5 meter dan memiliki umur hidup hingga belasan tahun.

2. Python Carpet, saya beri nama "wazza", diambil dari nama panggilan pemain manchester united Wayne Rooney. walau hanya berusia sedikit lebih muda dari orochimaru namun panjang dan besar tubuhnya sangat jauh berbeda, saat ini wazza hampir berumur 1 tahun, dan memiliki panjang kurang dari 1 meter dan tubuh cenderung ramping. Python carpet memiliki panjang maksimal 2-2,5 meter. Mengapa python carpet bertubuh ramping? python carpet adalah ular semi aboreal (sering bertengger di pohon, namun kadang juga turun ke tanah).

3. Green Tree Python (GTP)/Chondro, saya beri nama "zakumi" dikarenakan saat saya adopsi ular ini bertepatan dengan penyelenggaraan putaran final piala dunia 2010. GTP dapat berukuran maksimal 2 meter atau lebih sedikit, sama dengan halnya carpet, GTP juga bertubuh ramping, namun yang membedakan GTP dengan carpet adalah GTP merupakan ular aboreal (seluruh hidupnya dihabiskan di atas pohon/dahan/tempat bertengger).

itulah sebagian hewan adopsi yang saya urus saat ini, semoga dengan lebih mengenal ular maka dapat lebih mencintai makhluk indah ini....

sekian.

Kamis, 30 Desember 2010

Indonesian Supporter, Absolutely Insane!!!

"Saya sangat bangga dengan suporter Indonesia. Kalian semua hebat!Benar-benar pendukung terbaik di dunia. Saya bangga akan kalian dan saya bangga jadi orang Indonesia"
(Irfan Haris Bachdim)
tentunya saya tidak perlu repot untuk memperkenalkan siapa orang yang mengucapkan kalimat diatas karena anda pasti sudah tau siapa dia, bukan? ya...Irfan Haris Bachdim merupakan pemain "naturalisasi" yang besar di Belanda dan pernah berlatih di akademi sepakbola Ajax Amsterdam, lagi2 saya juga tidak perlu untuk menjelaskan mengenai akademi tersohor yang satu ini, karena jika anda berpengetahuan luas soal sepakbola tentu anda juga akan mengenal akademi ini.
Saat menulis tulisan ini otak saya belum benar-benar netral dari kecanduan dan euforia piala AFF 2010 yang ditularkan timnas Indonesia, seperti juga kebanyakan dari anda. Saya juga salah satu dari masyarakat Indonesia yang bangga luar biasa dengan penampilan timnas Indonesia, setidaknya hingga babak semifinal.kenapa babak semifinal? karena babak final yang dilangsungkan hanya menyumbangkan 1 lagi rasa penasaran akan gelar juara.
Pertandingan pertama babak final di stadion Bukit Jalil, Malaysia sekali lagi menjadi bukti bahwa ada kelemahan mental yang parah dan mengakar pada pemain Indonesia yang membuat setiap lawan diberi "kenyamanan" bermain dan menekan saat timnas Indonesia tidak bermain di "kandangnya". terlepas sebesar apa pengaruh laser terhadap pandangan Markus Haris Maulana ataupun duet penyerang Malaysia yang memang berkualitas, pemain Indonesia "membantu" kemenangan Malaysia dengan tampil sangat tidak baik sehingga hasil 3-0 adalah hadiahnya.
Namun, apa yang terjadi setelah kekalahan telak itu???
normalnya suporter Indonesia akan menyerah dan memilih untuk menghentikan euforia, tapi sebaliknya! dukungan itu mengalir semakin menggila, suporter sepertinya tau apa yang dapat diperbuat oleh pemain kita jika berlaga di Gelora Bung Karno, suporter juga tau apa yang harus diperbuat oleh mereka agar menjadi bagian dari tim, pemain ke-12.
Faktanya semua tim yang bermain di Gelora Bung Karno selama piala AFF harus menyerah kalah, termasuk 2 lawan terberat yang dihadapi Indonesia selama piala AFF ini yaitu Thailand dan Filipina dengan pemain naturalisasinya. Malaysia sang juara 2 kali tampil di GBK mereka harus kebobolan 7 gol dan hanya menyarangkan 2 gol dan keduanya menghasilkan kekalahan. Militanisme suporter Indonesia membuat kaki pemain timnas bergerak lebih ringan, dan berlari lebih cepat.
ya Indonesia bukan juara, juga tidak memperoleh piala, tapi salut yang setinggi-tingginya bagi rekan-rekan suporter yang berjuang bahkan tidak kalah keras dengan para pemainnya demi mengharumkan nama bangsa, salut untuk mereka yang rela pingsan, menjadi gelandangan dadakan, bahkan menyumbangkan nyawanya...
Indonesia hanya untukmu jiwa raga kami....
Good or Bad Still My Fuckin Country...!!

Sekian.

Rabu, 29 Desember 2010

Siapa yang menghancurkan mimpi kita???

Bulan Desember di tahun 2010 sudah selayaknya masuk dalam buku sejarah Indonesia, ada yang sependapat?? saya yakin tidak banyak, sebelum saya sampaikan alasan dari pernyataan saya sebelumnya. Masih ingat kapan terakhir kali kita (anda,dan saya) berbagi tawa karena stimulus yang diberikan oleh permainan baik tim nasional sepakbola kita? saya yakin banyak dari anda yang lupa, dan sangat wajar karena sudah sekian lama kita hanya disajikan oleh rentetan duka dan kekecewaan akan prestasi olahraga nasional sepakbola.
Saya jadi teringat oleh perkataan seorang pemimpin terbaik dan terkuat yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Soekarno "olahraga adalah alat pembentuk karakter bangsa", bangsa yang memiliki prestasi olahraga yang baik biasanya juga memiliki karakter yang kuat. Tidak banyak bantuan yang dilakukan oleh tim nasional sepakbola kita selama ini dalam pembentukan karakter bangsa, dan saya yakin anda mengerti dengan pernyataan dan alasan saya menyatakan pernyataan saya itu.
ya, selama ini tidak banyak prestasi yang disumbangkan sepakbola yang dapat memicu keluarnya karakter asli bangsa Indonesia, hingga bulan Desember 2010. tim nasional Indonesia yang berlaga dengan baik selama Piala Asean Football Federation (AFF)2010 sejauh ini telah memberikan stimulus yang luar biasa untuk memunculkan karakter sebenarnya dari bangsa Indonesia, bangsa besar yang sangat lama lupa siapa mereka, bangsa yang dapat bersikap sangat militan dan siap "mati" demi membela tim nasionalnya, bandingkan dengan malaysia yang tidak memilki kebanggaan sebesar itu akan tim nasionalnya, ataupun Filipina yang salah satu pemain naturalisasinya menceritakan bahwa di negaranya bahkan untuk mengumpulkan 2000 orang untuk menonton sepakbola merupakan hal yang berat.
Apalagi kebanggaan yang dapat kita peroleh dari Republik ini? Republik yang kacau dan carut marut, Republik yang memiliki budaya korup, dan lembaga pendidikan koruptor papan atas di dunia! Tolong puang Nurdin Halid, Tuan Besar Aburizal Bakrie, Rekan-rekan pers yang terhormat, dan pihak2 yang merasa berhak diberi penghargaan lebih atas prestasi ini biarkan tim nasional kita berkembang dengan layak dan benar, biarkan Mr.Riedl meracik timnya dengan nyaman, jangan kotori sepakbola dengan politik, dan ekspektasi berlebihan yang membebani kaki punggawa terbaik di negeri ini, biarkan mereka bermain dengan riang.
Jika nantinya kita gagal jangan kecam firman utina, jangan pula menyalahkan Maman Abdurrahman, ataupun menghujat Markus, tapi salahkanlah diri kita sendiri yang memberikan "dukungan irasional" dengan pemberitaan berlebihan, "agenda sampah" diluar program latihan, dan sikap "megalomania" yang egoistis. Marilah dewasa sebagai pendukung, dewasa sebagai bangsa, marilah kita menang sebagai suatu bangsa, dan kalah tetap sebagai suatu bangsa karena hanya dengan itu kita akan berteriak dan bernyanyi bersama, kita Indonesia dan semoga bangga dengan kenyataan itu.
Sekian.